Share This

Seorang sahabat suatu hari bertanya kepada saya, memangnya bisa yah kemiskinan di komersialisasi? sebuah pertanyaan yang meminta kita untuk merenung dalam-dalam, benarkah treatment yang kita lakukan terhadap kemiskinan hari ini?

Faktanya, sebagian orang memang melakukan komersialisasi terhadap kemiskinan. Bagi orang-orang jenis ini, kemiskinan adalah sebuah ‘gadis seksi’, proyek, potensi bisnis, serta sasaran empuk untuk menjalankan kegiatan yang ber-orientasi kepada profit pribadi dan golongan.

komersialisasi kemiskinan
Kemiskinan Pada Daerah Terluar Indonesia

Pengertian Komersialisasi Kemiskinan

Istilah komersialisasi atau komodifikasi kemiskinan adalah frase yang kami pilih untuk merepresentasikan:

Segala bentuk eksploitasi dan pemanfaatan status kemiskinan ataupun citra dari kemiskinan dari seseorang atau kelompok orang guna memenuhi tujuan pribadi atau golongan tertentu. Tujuan ini dapat berupa materi, popularitas, jabatan, hingga status dan pencitraan sosial.

Definisi Komersialisasi Kemiskinan Versi Gugur Gunung Indonesia

Ada tiga poin penting yang ingin kami jelaskan dari definisi tersebut, yaitu:

  1. Bentuk eksploitasi dan pemanfaatan bisa bermacam-macam, akan kami paparkan pada bagian contoh.
  2. Yang dimanfaatkan tidak harus objek kemiskinan, namun status dan citra kemiskinan sering pula dimanfaatkan oleh pihak tertentu.
  3. Tujuan eksploitasi juga bermacam-macam, tidak melulu untuk materi.

Komersialisasi kemiskinan adalah kejahatan terselubung yang sering menyamar menjadi malaikat berparas cantik jelita. Atas nama pahala dan surga, orang sering lupa bahwa apa yang mereka lakukan tidaklah menyelesaikan permasalahan.

Mereka tidak mengentaskan kemiskinan. Yang ada, mereka hanyalah memperpanjang dan memakmurkan kemiskinan itu sendiri.

Kategori Komersialisasi Kemiskinan dan contohnya

Kami mengkategorikan kegiatan komersialisasi kemiskinan (baik terstruktur maupun tidak) menjadi 3 klaster besar yaitu: Kategori ringan, Kategori Sedang, dan Kategori Berat.

Pengkategorian ini dapat beragam tergantung Anda melihatnya pada sudut pandang bagaimana.

Komersialisasi level 1: Kategori ringan

Komersialisasi kemiskinan jenis ini, adalah bentuk yang paling ringan. Mereka tumbuh lantaran hukum pasar supply dan demand. Jika pada suatu masyarakat komersialisasi ini disambut, maka akan bermunculanlah followernya.

Sebaliknya, jika masyarakat tidak menyambutnya, maka komersialisasi jenis ini akan berhenti dengan sendirinya.

Contoh Komersialisasi Kemiskinan Kategori Ringan

Keberadaan Pengemis dengan keterbatasan fisik (Difabel).

Disadari atau tidak, pengemis atau peminta-minta dengan kondisi difabel, sebenarnya sedang ‘memanfaatkan‘ ketidakberdayaan fisik mereka untuk mengemis.

Memang, seringkali mereka mengemis karena paksaan kondisi. Tak ada perusahaan yang mau menerima mereka bekerja. Saudara ataupun keluarga mereka pun mungkin sudah tidak peduli dengan mereka.

Sering dijumpai mereka kesulitan mendapatkan pendidikan yang layak. Selain mahal, pendidikan untuk golongan difabel belum tersedia merata di seluruh negeri ini.

Ini belum termasuk dengan diskriminasi sosial yang sering mereka dapatkan. Parahnya, yang mendiskriminasikan atau melecehkan justru mereka orang yang menyebut diri mereka dengan sebutan manusia normal.

dengan segala kondisi di atas, pantaskah mereka mengemis? adakah diantara Anda yang mau hidup atas dasar belas kasihan orang lain?

Gugur Gunung Indonesia

Kami kira tidak ada yang mau hidup dalam skema menunggu belas kasihan. Hidup seperti ini bukanlah sebuah hidup yang pantas diterima oleh saudara kita yang difabel.

Faktanya, beberapa superhero memperjuangkan mereka dengan tulus.

Kami kategorikan mereka sebagai komersialisasi rendah karena negara dan lingkungan sekitar belum hadir untuk mereka. Dalam pandangan kami, mereka adalah tanggung jawab negara dan para penguasa.

Mereka yang punya harta berlebih, sudah sewajarnya menampung mereka. Di pundak para pemangku teratas itulah nasib mereka dititipkan, khususnya untuk kategori disabilitas berat.

Bagi penyandang disabilitas ringan/ bahkan sedang, saatnya mereka mendapat pembinaan, pendidikan, pembekalan, serta penyaluran pada industri. Dengan demikian, mereka akan mampu memiliki semangat hidup tanpa perlu menunggu belas kasihan orang lain.

Ikuti kampanye Gugur Gunung untuk Para Penyandang Disabilitas (Difabel)

Gugur gunung campaign #2

Penjual Tisu, cobek, Air minum, dengan memanfaatkan anak kecil, orang tua, ibu hamil, atau ibu yang menggendong bayi untuk menjajakannya.

Sama dengan kondisi di atas, kami sama sekali tidak bermaksud menyudutkan mereka yang melakukannya. Kami mencintai mereka lantaran kesediaan mereka memilih bekerja bukan mengemis.

Permasalahannya, format model seperti itu kini semakin menjamur dan sudah menjadi model. Yang mereka incar adalah orang-orang dermawan yang bersedia memberikan lebih (umumnya memberi pecahan uang besar dan tidak mau diberi kembalian).

Sekali lagi, kami tidak ingin menyudutkan mereka yang secara murni bekerja dengan cara ini. Tentu saja ada yang murni (tidak berniat berjualan sambil mencari sedekah).

Film karya budayawan dan agamawan ternama Emha Ainun Nadjib berjudul Rayya, menjelaskan dengan apik hal tersebut. Dalam salah satu scene nya, terdapat penjual kerupuk yang tidak mau diberi uang lebih oleh pembelinya.

Dia hanya berkata “Saya berdagang mbak, bukan mengemis“.

Kabar buruknya, kini muncul koordinator atau tokoh intelektual yang menggunakan format di atas sebagai sumber penghasilan. Artinya, mereka ter-organisir, dan memang bekerja dengan cara ini.

Yang lebih parah, kadang mereka sebenarnya tidak benar benar miskin. Mereka punya rumah layak dan kehidupan yang jauh diatas kata miskin.

Inilah yang menjadi concern kami menyoroti fenomena di atas.

Manusia gerobak dan pemulung “dadakan” pada musim sedekah

Contoh yang terakhir ini lebih keterlaluan. Ya, cobalah perhatikan apa yang terjadi di kota besar seperti Jakarta pada bulan sedekah. Sebutlah bulan Ramadhan.

Pada bulan ini, tiba-tiba saja bermunculan beratus-ratus bahkan beribu-ribu manusia gerobak dan pemulung dadakan.

Mereka bukanlah pemulung dan manusia gerobak yang sesungguhnya. Mereka hanyalah orang yang mencari “uang besar” dengan cara mengiba pada para dermawan yang termotivasi pahala berlipat.

Jika tidak mendapat uang, setidaknya mereka mendapatkan sekotak makan takjil. Bagaimana membedakannya dengan pemulung atau manusia gerobak asli? mudah sekali. Mereka umumnya mangkal, diam, dan tidak bekerja.

Mereka berbaris dengan jarak sekitar 100-200 m di antara mereka. Jika mereka membawa karung, karungnya kosong. Mereka cenderung hanya mengamati situasi di jalan sambil menunggu belas kasihan para dermawan.

Sama dengan fenomena sebelumnya, banyak dari pelaku modus ini tidaklah berstatus miskin. Mereka mampu secara finansial bahkan memiliki rumah yang megah di kampung halaman mereka.

Inilah bentuk komersialisasi kemiskinan yang nyata!

Komersialisasi Level 2: Kategori Sedang

Pada ketegori sedang, komersialisasi kemiskinan dibalut oleh kegiatan positif. Sangat tipis perbedaan antara komersialisasi kemiskinan dan tidak. Bedanya ada pada niat dari pelakunya.

Kami kategorikan sedang karena aksi ini banyak menyedot porsi sedekah yang seharusnya bisa digunakan untuk produktif, menjadi pasif dan hanya konsumtif.

Pelaku kegiatan ini idealnya dituntut memiliki rasa kesederhanaan dan kepekaan sosial. Hak untuk menikmati “Sebagian” dari donasi terkumpul harus dibenturkan dengan kewajaran dan kesederhanaan yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

Selain itu, pelaku harus berpikir, adakah cara lain yang lebih terhormat untuk mendapatkan manfaat dari kegiatannya?

Sebelum melanjutkan pembahasan pada bagian contoh, apa yang kami sampaikan mohon jangan dibenturkan dengan kewajiban dasar seperti zakat. Kami tidak sedang mengkritisi zakat. Yang kami kritisi adalah, pelaku / panitia kegiatan amal yang tidak tulus.

Contoh Komersialisasi Kemiskinan Kategori Sedang

Panitia amal, sedekah, dan platform sejenis yang mengambil bagian dari hasil pengumpulan dana secara langsung dengan jumlah tidak wajar.

Kami tegaskan sekali lagi bahwa kami menulis hal ini bukan karena kami membenci kegiatannya, namun karena pengambilan hak yang berlebihan dan diikuti niatan tidak tulus dari pelaku.

Sebut saja lembaga zakat. Jika yang ditargetkan dari lembaga ini adalah peningkatan nilai pengumpulan zakat setiap tahunnya, dengan harapan 1/8 dari total pengumpulan tersebut adalah haknya, tentu ini tergolong komersialiasi kemiskinan.

Peningkatan jumlah muzakki serta total nilai zakat, itu bagus. Namun, yang seharusnya menjadi target adalah berapa persen kemiskinan berkurang. Mengerjakannya memamng tidak mudah, Allah SWT sendiri menyebut jalan ini sebagai jalan yang mendaki dan berliku (QS Al Balad 10-16)

Lembaga semacam ini, akan lebih baik jika memiliki unit komersial yang digunakan untuk membiayai operasionalnya. Pengambilan jatah sebagai panitia, dilakukan secara wajar, dan secukupnya (tidak berlebih-lebihan).

Yang lebih penting, jangan pernah melupakan misi sesungguhnya yaitu pengentasan kemiskinan. Kami sedih sekali melihat Lembaga semacam ini dipakai untuk mengumpulkan rasa iba orang lain. Caranya, dengan membagikan gambar-gambar menyentuh untuk meningkatkan nilai donasi. Seharusnya, mereka bertindak lebih jauh dengan mulai berpikir hulu hilir dan holistik.

Panitia anak yatim

Yang kami sebut dengan panitia anak yatim adalah mereka para calo anak yatim untuk kegiatan donasi/ santunan pada musim sedekah.

Parahnya, terkadang yang didatangkan justru bukan anak yatim. Terlebih ketika acaranya berkaliber besar seperti santunan bersama 1000 anak yatim. Jika kita meluangkan waktu untuk bertanya misal, ayahnya kerja dimana? anak anak polos ini akan menjawab dimana pekerjaan ayahnya. Artinya, mereka bukan yatim.

Santunan tersebut banyak menyerap dana dari para dermawan. Apalagi jika kegiatan dilakukan pada tempat eksklusif. Tak jarang yang terjadi adalah nilai santunan lebih kecil daripada nilai acara secara keseluruhan. Artinya, sedekah para dermawan lebih banyak mengalir buat acara ketimbang buat santunan (Bermegah-megah di acaranya).

Kami pun tidak sependapat dengan konsep rumah penampungan anak yatim. Yang lebih dibutuhkan oleh anak yatim adalah ayah/ ibu asuh sebagai pengganti orang tua nya. Mereka pun akan lebih nyaman jika tetap bisa berkumpul bersama keluarganya. Bukan di kumpulkan jadi satu dalam rumah bernama “Rumah Yatim”.

Di dalam islam, orang pertama yang didorong untuk menyantuni anak yatim adalah keluarga terdekat. Rujuklah pada perintah Allah dalam alquran. Nabi SAW sendiri diasuh oleh kakek dan paman beliau sepeninggal ayah dan ibu beliau. Situasi seperti inilah yang paling ideal bagi adik adik yatim kita.

Komersialisasi Level 3: Kategori Berat

Pada level ini, komersialisasi kemiskinan dilakukan untuk membuat yang kaya semakin kaya saja. Tidak ada niatan sama sekali untuk mengentaskan kemiskinan.

Padahal, dengan level sosial seperti itu, sudah seharusnya orang-orang kaya ini berpikir lebih jauh cara mengentaskan kemiskinan. Mereka memiliki otak lebih pintar dari kebanyakan orang. Sumberdaya nya pun memadai.

Namun yang terjadi, mereka hanya menggunakan kemiskinan sebagai alat. Alat untuk melanggengkan kekuasaan, kekayaan, hasrat duniawi, popularitas, dan lain sebagainya.

Contoh Komersialisasi Kemiskinan Kategori Berat

Berbagai program TV yang menjadikan kemiskinan sebagai objek utama

Banyak sekali program semacam ini diadakan. Faktanya, program semacam ini seakan dapat menguras emosi penontonnya sehingga mendapatkan rating yang tinggi.

Program semacam ini umumnya memberikan bantuan langsung tunai dengan nilai yang bahkan lebih kecil dari gaji host pembawa acaranya. Total keseluruhan pendapatan produser dari acara ini tentu jauh di atas nilai yang disedekahkan.

Sebut saja nama program seperti: Andai aku menjadi, Bedah rumah, Uang kaget, dsb. Pada acara uang kaget misalnya, orang yang mendapat rejeki dadakan harus menghabiskan uang tersebut dalam waktu tertentu.

Sebuah kebodohan dalam bersedekah yang luar biasa parah. Mana mungkin membantu orang dilakukan dengan cara seperti itu.

Belakangan seluruh acara ajang pencarian bakat, sebut saja D’ Academy, juga melakukan komersialisasi kemiskinan. Seringkali para kontestan yang berangkat dari status miskin, diulas masa lalunya didepan panggung.

Akibatnya, emosi penonton terkuras, dan memunculkan rasa iba. Bapak Ibu produser acara yang sangat kami hormati, Anda punya otak kan? tolonglah gunakan otak karunia Tuhan tersebut dengan baik.

Kemunculan Youtuber atau Artis yang sok bersedekah demi konten

Belakangan muncul konten yang ingin menguras hati penonton dengan aksi sedekah bernilai fantastis.

Modusnya bisa bermacam-macam. Targetnya, bisa tukang bubur, tukang cukur, atau orang-orang miskin lainnya. Para youtuber dan artis ini biasa memberikan uang senilai beberapa juta atas nama iba.

Ada juga yang mengatasnamakannya sebagai eksperimen sosial. Eksperimen mencari orang baik, dll. Sama saja, semua bertujuan demi konten. Konten adalah mesin pencetak uang bagi mereka.

Tujuan mereka adalah viral. Yang mereka keluarkan tidak sebanding dengan apa yang akan mereka dapatkan dari Youtube. Kepada orang-orang semacam ini, kami ingin menyeru mereka untuk menggunakan otak dan hati nurani mereka.

Giveaway untuk menaikkan viewers untuk menjadi trending.

Mirip dengan contoh nomor 2, mereka yang melakukan kegiatan ini sebenarnya tengah “memanfaatkan” orang miskin dengan iming-iming hadiah.

Hadiah yang mereka berikan tentu saja jauh lebih kecil dari apa yang mereka akan dapat ketika konten mereka viral. Sangat miris melihatnya.

Sebuah kebodohan nyata di abad 21. Kami sendiri tidak mengerti apakah para pelaku giveaway ini pernah menggunakan hati nya untuk melihat kehidupan orang-orang yang kurang beruntung.

Aksi para Caleg dengan Kampanye anti kemiskinan mereka

Tanpa disadari, banyak sekali caleg yang menggunakan kemiskinan sebagai program andalan untuk meningkatkan elektabilitas mereka.

Faktanya, setelah mereka menjabat, tidak ada perubahan yang berarti pada status kemiskinan masyarakat

Modusnya bermacam macam, ada yang memakai nama guru ngaji, guru honorer, dsb. Ada yang menggunakan nama buruh, keluarga pra sejahtera, orang yang jobless, hingga anak anak yang tidak mampu bersekolah.

Solusi yang mereka tawarkan rata rata sama, memberikan bantuan langsung tunai. Bentuk sedekah yang dihindari oleh kami komunitas Gugur Gunung.

Padahal, bapak-ibu caleg ini adalah orang-orang terpilih, yang secara kemampuan intelektual seharusnya mampu berpikir radikal terkait cara pengentasan kemiskinan. Entah sampai kapan isu kemiskinan, kelaparan, gizi buruk, akan menjadi pembahasan menarik di setiap kampanye politik.

Lembaga keuangan mikro yang memberikan pinjaman dengan bunga tinggi.

Lembaga semacam ini terbukti tidak menyelesaikan masalah. Yang ada, hanyalah perubahan status miskin menjadi miskin + gharim.

Banyak lembaga keuangan yang berlindung dari tameng resiko. Mereka menyatakan, mayoritas penduduk miskin unbankable sehingga berpotensi tinggi terjadinya gagal bayar.

Komentar kami, jangan kasih pinjam orang miskin jika orientasi Anda hanyalah uang. Jangan jadi lintah darat berkedok lembaga keuangan.

Penutup

Sebagai penutup dari sudut pandang terkait komersialisasi kemiskinan, kami ingin suguhkan 2 riwayat cara bersedekah dari Baginda Nabi SAW.

Cara Rasul Menyantuni Anak Yatim

Dikisahkan sebuah riwayat yang diceritakan oleh Imam Bukhari dalam At Tarikh Al Kabir dan Durratun Nashihin karya Syekh Utsman ibn Hasan ibn Ahmad Syakir Al Khubawi.

Kala itu, Hari raya Idul Fitri 1 Syawal hadir, menandai berakhirnya bulan ramadhan. Anak-anak bermain dengan riang dan penuh canda tawa.

Rasulullah SAW yang hendak menunaikan sholat Idul Fitri, bergegas menuju masjid, menembus kerumunan anak-anak yang riang gembira. Tiba-tiba, langkah Rasul terhenti ketika menyaksikan seorang gadis kecil menangis di tepi jalan, jauh dari kawan-kawan sebayanya yang sedang bercanda tawa.

Rasulullah kemudian menyapa gadis kecil tersebut “Gerangan apakah yang membuat engkau menangis anakku?”

Tanpa menoleh kepada suara yang menyapanya, gadis kecil itu menjawab “Ayahku mati syahid dalam sebuah peperangan bersama Rasulullah, ibuku menikah lagi dan suami barunya mengusirku, tidak mau mengurusiku”

Mendengar jawaban ini, Rasulullah langsung mendekap gadis kecil tersebut dan berkata “Maukah engkau, seandainya Aisyah menjadi ibumu, Muhammad Ayahmu, Fatimah bibimu, Ali sebagai pamanmu, dan Hasan serta Husain menjadi saudaramu?

Sadarlah gadis itu bahwa lelaki yang sejak tadi berdiri di hadapannya tak lain adalah Muhammad Rasulullah SAW, Nabi anak yatim yang senantiasa memuliakan anak yatim. Siapakah yang tak ingin berayahkan lelaki paling mulia, dan beribu seorang Ummul Mukminin?

Larangan meminta-minta

Anas bin Malik meriwayatkan pernah datang di hadapan Rasulullah seorang pengemis. Nabi SAW tidak langsung memberinya sedekah. Beliau lantas bertanya kepada pengemis tersebut, “Apakah kamu mempunyai sesuatu di rumahmu?”

Pengemis itu menjawab, “Tentu, saya mempunyai pakaian yang biasa dipakai sehari-hari dan sebuah cangkir.” Rasul melanjutkan pertanyaan beliau dengan berkata, “Ambil dan serahkan ke saya!”

Pengemis itu pun menuruti perintah Rasulullah. Kemudian, Rasulullah menawarkannya kepada para sahabat, “Adakah di antara kalian yang ingin membeli ini?” Seorang sahabat menyahut, “Saya beli dengan satu dirham.”

Rasulullah menawarkanya kembali,”adakah di antara kalian yang ingin membayar lebih?” Lalu ada seorang sahabat yang sanggup membelinya dengan harga dua dirham.

Rasul SAW lantas menyuruh pengemis tadi untuk membeli makanan untuk makan keluarganya hari ini. Selebihnya, Rasul SAW menyuruhnya untuk membeli kapak. Rasul lantas berkata, “Carilah kayu sebanyak mungkin dan juallah, selama dua pekan ini aku tidak ingin melihatmu.”


Gugur Gunung Indonesia mengajak semua pihak untuk memikirkan kembali cara-cara yang lebih bijaksana dalam bersedekah.

Artikel Terakhir di update tanggal 28 November 2020

Baca juga artikel lainnya:

Share This

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *